my Family in the Vhalembank CityThis is a featured page


Ibund@ di Palembang
This is My Mother
SEJARAH MALAKA


Kesultanan Malaka adalah kesultanan Melayu Islam yang terdapat di wilayah penyempitan selat di Semenanjung Melayu. Sejak zaman Sriwijaya, Semenanjung Melayu merupakan tempat yang sangat trategis bagi jalur perdagangan antara barat dan timur.
Setiap harinya kapal-kapal dari negeri asing berdatangan dan singgah di sana. Tentu saja kedatangan para pelaut-pelaut asing tersebut membuat Semenanjung Melayu tersebut menjadi wilayah yang tumbuh dengan pesat.
Hal itu terjadi karena para pelaut-pelaut asing tersebut datang dengan membawa berbagai macam barang-barang yang mereka dagangkan. Maka jadilah Semenanjung Melayu (diwilayah bagian Malaka) menjadi sebuah pelabuhan sekaligus Bandar Raya.
Banyak negeri-negeri lain yang menginginkan Semenanjung Melayu masuk dalam wilayah kekuasaannya, mengingat wilayah Semenanjung Melayu merupakan tempat yang sangat strategis bagi jalur perdagangan antara barat dan timur.
Namun apa daya, angkatan perang kerajaan Sriwijaya sangat kuat dan susah ditaklukkan kala itu. Apalagi Raden Sri Pakunalang sebagai Panglima Tertinggi pada masa Ratu Dewayani dan Raja Cudamaniwarnadewa berkuasa sangat ahli akan stategis perang.
Tak hanya negeri-negeri lain yang ingin menguasai Semenanjung Melayu, penduduk asli pun sangat ingin memerdekakan tanah kelahirannya. Akan tetapi setiap daya dan upaya mereka selalu saja gagal ditangan prajurit-prajurit kerajaan Sriwijaya.
Hingga pada masa Raja Sri Sanggranawijayatunggawarman berkuasa di Sriwijaya. Semenanjung Melayu lepas dari tangan Sriwijaya. Uniknya Semenanjung Melayu merdeka berkat kerja keras seorang mantan raja Sriwijaya.
Parameswara namanya atau Iskandar Zulkarnaen Alamsyah, ketika beliau telah memeluk agama Islam. Berhasil merebut Semenanjung Melayu dari tangan Sriwijaya, dan mendirikan sebuah kerajaan Islam yang diberinama Kesultanan Malaka.
Parameswara atau Iskandar Zulkarnaen Alamsyah menjadi raja pertamanya dengan gelar Sultan Iskandar Syah. Pada masa kepemerintahannya, Malaka mengalami masa kejayaan. Negeri Malaka menjadi negara Islam yang makmur.
Dengan Panglima tertinggi, Panglima Tuan Junjungan serta si kembar Panglima Bagus Karang dan Panglima Bagus Sekuning. Negeri Malaka selalu berhasil mengalahkan para penjajah seperti negeri Siam dan Majapahit. Dan tak ketinggalan juga jasa seorang laksamana angkatan laut bernama Hang Tuah.
Dikarenakan suatu hal, Sultan Iskandar Syah memutuskan kembali ke Lembang Melayu (Palembang). Kala itu Sriwijaya masih ada, namun tidak memiliki kedaulatan. Kemudian kedudukan raja digantikan oleh penerusnya dengan gelar Sultan Mayat Iskandar Syah (1414-1424 M).
Pada tahun 1424 M, Kesultanan Malaka di perintah oleh Sultan Muhammad Iskandar Syah. Pada masa kepemerintahannya, Malaka semakin maju sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dari berbagai negeri. Sultan Muhammad Iskandar Syah digantikan oleh putera bungsunya yang bernama Paramesara Dewa Syah.
Parameswara Dewa Syah menjadi raja dengan gelar Sultan Abu Syahid. Namun, ia hanya memerintah Malaka hanya satu tahun saja (1445-1446 M). Parameswara Dewa Syah terbunuh dalam perebutan kekuasaan oleh sepupunya yang bernama Mudzaffar.
Ia memerintah Malaka dengan gelar Sultan Mudzaffar Syah (1446-1458 M). Kemudian ia digantikan puteranya yang ketika naik tahta bergelar Sultan Mansyur Syah (1458-1477 M). Kesultanan Malaka kemudian dipimpin oleh Sultan Alaudin Riayat Syah (1477-1488 M).
Pada tahun 1488 M, Malaka dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah. Sayangnya Sultan Mahmud Syah sangat mewarisi sifat kakek buyutnya (Sultan Mudzaffar Syah) yang tamak dan serakah. Tahun 1509 M, Diego Lopez de Sequiera dari kerajaan Portugis tiba di Malaka dengan rombongan sebanyak 18 kapal. Rombongan dari Portugis (Portugal) ini merupakan rombongan orang Eropa pertama yang tiba di Asia Tenggara.
Sayangnya, kelakukan orang-orang Eropa ini sangat tidak terpuji. Mereka sering berbuat onar terutama mengganggu para gadis. Atas usulan penasehat kerajaan, maka Sultan Mahmud Syah memerintahkan prajuritnya untuk mengusir orang-orang Eropa tersebut dan berhasil menangkap 20 orang dari mereka.
Pada 10 Agustus 1511, armada laut Portugis yang besar dari India menyerang Malaka. Armada perang yang beasr tersebut di pimpin oleh Alfonso d’ Albuquerque. Terjadilah peperangan selama 10 hari hingga akhirnya Malaka jatuh ketangan Portugis.
Sultan Mahmud Syah melarikan diri ke pantai timur Semenanjung Melayu, tepatnya daerah Pahang. Maka habislah sudah masa Kesultanan Malaka yang dibangun oleh Parameswara.

PERJALANAN MENUJU NEGERI BARU

Konon Bukit Jempol, merupakan tempat yang bersejarah dalam usaha merebut dan membangun Malaka. Di bukit Jempol-lah Parameswara atau Iskandar Zulkarnaen Alamsyah mendapat petunjuk dari Sang Maha Pencipta sebelum menuju wilayah di Semenanjung Melayu itu.
Setelah meninggalkan ibukota Sriwijaya, Parameswara beserta pengikut-pengikut setianya berangkat menuju Bukit Jempol menaiki sebuah kapal yang sangat legendaris yang bernama Kapal Lancang Kuning.
Berangkat dari sungai Musi hingga memasuki sungai Lematang. Rombongan Parameswara dikawal oleh sosok gaib Ratu Sangklang beserta buaya-buaya siluman yang merupakan prajurit-prajuritnya.
Setibanya di Bukit Jempol, Parameswara bertemu sosok gaib Dhapunta Hyang (ada kisah yang menceritakan bahwa Bukit Jempol merupakan candi yang dibuat Parameswara ketika menjadi raja di Sriwijaya. Candi alami tersebut sengaja dibuat atas permintaan sosok gaib Dhapunta Hyang sebagai tempat pertapaannya).
Setelah mendapatkan wejangan dari sosok gaib yang pernah menjadi gurunya itu, Parameswara beserta rombongan, berlayar menuju Timur Tengah. Kepergian Parameswara diiringi hingga ke lautan lepas oleh puluhan kapal angkatan laut Sriwijaya. Banyak rakyat Sriwijaya yang menangisi kepergian mantan Raja Sriwijaya itu.
Dalam perjalanan menuju Timur Tengah, Parameswara beserta rombongan, singgah di Temasik (Singapura) untuk beberapa waktu. Di Temasik, Parameswara dan kapal perangnya dari angkatan laut kerajaan Sriwijaya, sebanyak delapan buah yang bersenjatakan lengkap. Mereka merapat di perairan dangkal.
Ternyata di dalam salah satu kapal tersebut, terdapat salah seorang yang tidak asing lagi bagi Parameswara ketika dirinya menjadi raja di Sriwijaya. Dan orang tersebut adalah Panglima Jairo.
Panglima Jairo menceritakan pada Parameswara, bahwa kini telah diangkat raja baru yang bergelar Raja Sri Sanggramawijayatunggawarman. Tapi sayangnya, raja yang satu ini hanyalah sebagai boneka. Dan kendali pemerintahan di pegang sepenuhnya oleh para menteri.
Parahnya lagi, para menteri tersebut memiliki tujuannya masing-masing tanpa memikirkan negera dan rakyatnya. Panglilma Jairo pun bercerita panjang lebar pada orang yang masih dianggapnya sebagai rajanya yakni Parameswara.
Hati Parameswara terasa perih mendengar cerita dari Panglima Jairo yang baru saja diangkat sebagai Panglima Tertinggi menggantikan Raden Sri Pakunalang yang mengikuti jejak gurunya (Wali Putih) melanglang buana menyebarkan ajaran-ajaran Islam.
Walau tidak begitu lama memerintah di Sriwijaya, namun negeri Sriwijaya sangatlah dicintainya. Namun ada satu hal yang lebih menyakitkan terutama bagi Panglima Jairo. Panglima Jairo diutus oleh Raja Sriwijaya untuk memburu Parameswara yang menurut para menteri dapat menjadi ancaman bagi kerajaan Sriwijaya.
Mendengar cerita dari Panglima Jairo, tentu saja membuat Parameswara marah besar, terlebih ketika sang panglima mengatakan bahwa dirinya saat ini sedang dalam tugas untuk memburu dirinya beserta para pengikutnya. Akan tetapi, hal tersebut tidak mungkin dilakukan bagi seorang Panglima Jairo.
“Palinglima Jairo, kini aku telah dihadapanmu. Mengapa kau belum menjalankan tugas dari rajamu?” Tanya Parameswara dengan nada yang halus.
Tiba-tiba Panglima Jairo bersujud sambil menitikkan air mata. Dia berkata; “Maafkan diriku Tuan Raja. Bagiku Tuan masih rajaku, Raja Sriwijaya.”
Parameswara menjadi terharu mendengar perkataan Panglima Jairo. Terlebih ketika dirinya melihat seluruh prajurit dan awak kapal ikut bersujud dihadapannya tanpa terkecuali. Melihat keadaan tersebut Parameswara berkata.
“Panglima Jairo....Tinggallah dulu disini beberapa hari sambil memikirkan langkah selanjutnya.”
“Baiklah Tuan Raja.” Ucap Panglima Jairo.
Setiap malamnya, Parameswara menjalankan shalat Tahajjud memohon petunjuk-Nya. Pada hari ke-3 usai shalat Tahajjud, Parameswara bermimpi di datangi oleh gurunya yang berjulukan Wali Putih. Dalam mimpi itu Wali Putih berkata;
“Muridku....tundalah dulu niatmu ke Baghdad untuk berguru pada saudaraku. Saranku, pergilah ke Semenanjung Melayu. Tepatnya wilayah yang terdapat penyempitan selat dan tumbuh pepohonan yang disebut oleh penduduk setempat dengan sebutan Malaka. Agama Allah telah masuk disana, Insya Allah kau akan berhasil.”
Setelah bermimpi aneh tersebut, Parameswara beserta panglima-panglima setianya juga Panglima Jairo segera menyusun rencana. Setelah melalui diskusi yang cukup lama, maka Parameswara memutuskan, bahwa Panglima Jairo beserta armada perangnya kembali ke Ibukota Sriwijaya dan melaporkan bahwa mereka tidak berhasil menemukan dirinya.
Akan tetapi, Panglima Jairo menolak dengan penuh rasa hormat. Dan berkata; “Biarlah saya pulang dengan dua kapal saya. Kapal yang lain beserta prajurit ikut Tuan Raja dalam usaha merebut Semenanjung Melayu nanti.”
“Benar Tuan Raja. Kita butuh kapal-kapal itu.” Ujar Panglima Tuan Junjugan yang menyambung ucapan Panglima Jairo.
Akhirnya Parameswara menyetujui rencana panglima-panglima itu. Panglima Jairo kembali ke Sriwijaya dengan alasan mereka berhasil dikalahkan Parameswara beserta pengikutnya. Sedangkan enam kapal lainnya berangkat menuju Semenanjung Melayu bersama Parameswara.
Setibanya dikota Raya, Panglima Jairo segera menghadap dan melaporkan kegagalannya dalam memburu Parameswara. Untunglah Raja Sanggramawijayatunggawarman adalah sosok raja yang berhati lembut. Mendengar kegagalan Panglima Jairo, sang raja hanya berkata, “Dia (Parameswara) memang orang yang hebat dan juga sakti.”
Parameswara beserta pengikutnya yang telah bertambah jumlahnya, segera menuju Semenanjung Melayu. Keenam kapal perang yang tersebut, berhenti di suatu tempat di Semenanjung Melayu. Sedangkan kapal Lancang Kuning yang membawa Parameswara, meneruskan perjalanan menuju wilayah yang kelak bernama Malaka.
Namun diperjalanan, kapal Lancang Kuning dihadang dua buah kapal yang ternyata adalah kapal para perampok yang sering merampok para pelaut dan menjadi buruan-buruan tentara Sriwijaya.
Mengetahui perjalanannya dihadang oleh perampok, Parameswara segera melompat ke salah satu kapal perampok tersebut dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Dengan ilmu-ilmu kanuragan miliknya, para perampok itu dihabisinya semua. Sedangkan para perampok di kapal yang lain dibantai oleh si kembar Panglima Bagus Karang dan Panglima Bagus Sekuning. Yang konon mampu berubah wujud menjadi macan kumbang (Panglima Bagus Karang) dan macan loreng (Panglima Bagus Sekuning).
Ternyata aksi Parameswara dan kedua pengikut setianya itu disaksikan oleh penduduk setempat yang rata-rata adalah nelayan. Mereka takjub melihat kesaktian Parameswara dan kedua pengikutnya itu.
Tanpa kesulitan yang berarti, Parameswara dan kedua panglimanya itu berhasil menumpas para perampok yang sering merasahkan para pelaut. Parameswara dengan kapal Lancang Kuningnya merapat di daratan. Mereka mendapat sambutan meriah dari penduduk di pesisir Semenanjung Melayu itu.
Parameswara pun berkenalan dengan para penduduk setempat yang dipimpin oleh seorang kepada adat. Dari kepala adat yang oleh penduduk mereka sebut dengan nama Hang Tuah. Di ketahui bahwa tamu yang datang ke tanah kelahiran mereka ternyata adalah mantan raja Sriwijaya, raja yang mereka cintai.
Dari Hang Tuah juga, Parameswara mengetahui bahwa kini peraturan Sriwijaya telah berubah. Para penduduk di setiap penjuru Sriwijaya harus membayar upeti yang tak terkira jumlahnya. Maka Hang Tuah meminta Parameswara memimpin mereka dalam upaya melepaskan diri dari Sriwijaya.
Singkat cerita, Parameswara memimpin para penduduk untuk melakukan pemberontakan. Dibantu oleh para prajurit dan kapal perang dari Panglima Jairo membuat rencana dan taktik yang dijalankan oleh mantan rajanya membuahkan hasil.
Semenanjung Melayu lepas dari tangan Sriwijaya, yang gagal meredam pemberontakan yang dipimpin Parameswara. Suatu hari, Parameswara sedang duduk-duduk bersama Hang Tuah disuatu tempat yang banyak ditumbuhi pepohonan.
Tiba-tia dari balik pepohonan itu muncul ribuan ekor biawak yang terlihat sangat ganas. Setelah mengetahui bahwa biawak-biawak itu adalah makhluk gaib penunggu daerah tersebut, Parameswara segera mencabut sebilah keris. Keris Si Gentar Alam.
Kemudian ditancapkannya keris tersebut ke tanah sambil berucap dua kalimat Syahadat. Tiba-tiba terdengar gemuruh petir dengan kilat-kilat yang menyambar setiap siluman biawak tersebut.
Seusai peristiwa itu, Parameswara bertanya pada Hang Tuah; “Pohon-pohon apakah ini?”
“Pohon Malaka, Tuanku!” Jawab Hang Tuah.
Maka resmilah nama Malaka menjadi wilayah tersebut dan berdirinya sebuah pemerintahan. Kesultanan Malaka yang dipimpin oleh Parameswara atau Iskandar Zulkarnaen Alamsyah (Sultan Iskandar Syah).

BUKIT JEMPOL PENINGGALAN RAJA SI GENTAR ALAM

Bukit Jempol yang terdapat di Kabupaten Lahat, memanglah terlihat sangat unik. Bukit yang terlihat seperti stupa candi itu merupakan peninggalan kerajaan Sriwijaya pada masa pemerintahan Raja Cudamaniwarmadewa (Parameswara).
Menurut dialog batin Misteri dengan sosok gaib Raja Cudamaniwarmadewa atau Parameswara atau Iskandar Zulkarnaen Alamsyah atau juga Raja Si Gentar Alam, bukit Jempol merupakan sebuah candi tempat dirinya berolah kanuragan sejak menjadi murid sosok gaib Dhapunta Hyang.
“Pada waktu-waktu tertentu kita dapat berjumpa dengan sosok Dhapunta Hyang di bukit jempol,” ucap sosok gaib Raja Si Gentar Alam pada Misteri.
Bukit Jempol juga tempat yang didatangi pertama kali ketika Parameswara kembali ke Swarna Dwipa (Sumatera) bersama isterinya yang dikenal dengan nama Puteri Rambut Selaka beserta pengikut-pengikut setia mereka.
Misteri yang melakukan dialog batin dengan sosok gaib Puteri Rambut Selaka mengetahui bahwa dibukit Jempol terdapat banyak peninggalan kerajaan Sriwijaya terutama pada masa kepemimpinan suaminya.
Seperti harta karun, naskah-naskah kuno (prasasti) yang ditulis pada dinding-dinding batu dengan huruf Palawa dan berbahasa Melayu Kuno. Namun ada juga yang bertuliskan huruf Arab gundul dan berbahasa Melayu Kuno.
Akan tetapi, semuanya itu terselimut gaib, mengingat banyak tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab yang siap mencuri dan menjual peninggalan-peninggalan sejarah Nusantara ini.
Tentu saja kita semua berharap, peninggalan-peninggalan dari sejarah Nusantara ini dapat kita pelihara dengan baik. Bukan diperjual-belikan ataupun menjadi milik negara lain. Mudah-mudahan tulisan ini dapat menambah wawasan kita seputar sejarah orang-orang di masa lalu. This sample photo is easy to replace with one of your own: Click the EasyEdit button, highlight the placeholder image at left and hit "delete." Then click the "image" button in the toolbar and use the "browse" button to find the image you want to insert from your computer. It's that easy. The text can be wrapped around your image, or you can have the text start below the photo. You can also move the photo to the right side of the page. See your choices for photo and text placement by clickin on the photo with your mouse and then clicking "image" on the toolbar. You can also change the size of your photo by clicking on it once to highlight it, then by clicking the "plus" or "minus" sign in the "Edit Image" toolbox. When you're all done, save your page. my Family in the Vhalembank City - SRIWIJAYA - (sriwidjadja@yahoo.com)














Wangsa Syailendra

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Langsung ke: navigasi, cari
Candi Borobudur, salah satu peninggalan Wangsa Śailendra.
my Family in the Vhalembank City - SRIWIJAYA - (sriwidjadja@yahoo.com)
Candi Borobudur, salah satu peninggalan Wangsa Śailendra.
Śailendra adalah nama wangsa atau dinasti yang sebagian besar raja-rajanya menganut agama Buddha Mahāyāna yang berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno sejak tahun 752. Wangsa ini hidup berdampingan dengan Wangsa Sañjaya yang berkuasa sejak tahun 732, di daerah Jawa Tengah bagian selatan.

Daftar isi

[sembunyikan]
//

Asal-usul

Di Indonesia nama Śailendravamsa dijumpai pertama kali di dalam Prasasti Kalasan dari tahun 778 Masehi (Śailendragurubhis; Śailendrawańśatilakasya; Śailendrarajagurubhis). Kemudian nama itu ditemukan di dalam Prasasti Kelurak dari tahun 782 Masehi (Śailendrawańśatilakena), dalam Prasasti Abhayagiriwihara dari tahun 792 Masehi (dharmmatuńgadewasyaśailendra), Prasasti Sojomerto dari tahun 725 Masehi (selendranamah)dan Prasasti Kayumwuńan dari tahun 824 Masehi (śailendrawańśatilaka). Di luar Indonesia nama ini ditemukan dalam Prasasti Ligor dari tahun 775 Masehi dan Prasasti Nālanda.

Mengenai asal usul keluarga Śailendra banyak dipersoalkan oleh beberapa sarjana. Berbagai pendapat telah dikemukakan oleh sejarahwan dan arkeologis dari berbagai negara. Ada yang mengatakan bahawa keluarga Śailendra berasal dari India, dari Funan, dan penduduk asli dari Nusantara.

Teori India

Majumdar beranggapan bahwa keluarga Śailendra di Nusantara, baik di Śrīwijaya (Sumatera) maupun di Mdaŋ (Jawa) berasal dari Kalingga (India Selatan). Pendapat yang sama dikemukakan juga oleh Nilakanta Sastri dan Moens. Moens menganggap bahwa keluarga Śailendra berasal dari India yang menetap di Palembang sebelum kedatangan Dapunta Hiyaŋ. Pada tahun 683 Masehi, keluarga ini melarikan diri ke Jawa karena terdesak oleh Dapunta Hiyaŋ dengan bala tentaranya. Pada waktu itu Śrīwijaya pusatnya ada di Semenanjung Tanah Melayu.

Pernyataan yang hampir senada dengan Moens dikemukakan oleh Slametmulyana. Ia mengemukakan gagasannya itu didasarkan atas sebutan gelar dapunta pada Prasasti Sojomerto. Gelar ini ditemukan juga pada Prasasti Kedukan Bukit pada nama Dapunta Hiyaŋ. Prasasti Sojomerto dan Prasasti Kedukan Bukit merupakan prasasti yang berbahasa Melayu Kuno. Karena asal bahasa Melayu Kuno itu dari Sumatera dan adanya politik perluasan wilayah dari Kadātuan Śrīwijaya pada sekitar tahun 680-an Masehi, dapat diduga bahwa Dapunta Selendra adalah salah seorang pembesar dari Sumatera Selatan yang menyingkir ke pantai utara Jawa di sekitar Pekalongan.

Teori Funan

Cœdès lebih condong kepada anggapan bahwa Śailendra yang ada di Nusantara itu berasal dari Funan (Kamboja). Karena terjadi kerusuhan yang mengakibatkan runtuhnya Kerajaan Funan, kemudian keluarga kerajaan ini menyingkir ke Jawa, dan muncul sebagai penguasa di Mdaŋ (Matarām) pada pertengahan abad ke-8 Masehi dengan menggunakan nama keluarga Śailendra.


Teori Jawa

Pendapat bahwa keluarga Śailendra berasal dari Nusantara (Jawa) dikemukakan oleh Poerbatjaraka. Menurut Poerbatjaraka, Sanjaya dan keturunan-keturunannya itu ialah raja-raja dari keluarga Śailendra, asli Nusantara yang menganut agama Śiva. Tetapi sejak Paņamkaran berpindah agama menjadi penganut Buddha Mahāyāna, raja-raja di Matarām menjadi penganut agama Buddha Mahāyāna juga. Pendapatnya itu didasarkan atas Carita Parahiyangan yang menyebutkan bahwa R. Sañjaya menyuruh anaknya R. Panaraban atau R. Tamperan untuk berpindah agama karena agama yang dianutnya ditakuti oleh semua orang.

Pendapat dari Poerbatjaraka yang didasarkan atas Carita Parahiyangan kemudian diperkuat dengan sebuah temuan prasasti di wilayah Kabupaten Batang. Di dalam prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Sojomerto itu disebutkan nama Dapunta Selendra, nama ayahnya (Santanū), nama ibunya (Bhadrawati), dan nama istrinya (Sampūla) (da pū nta selendra namah santanū nāma nda bapa nda bhadrawati nāma nda aya nda sampūla nāma nda ..). Menurut Boechari, tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah bakal raja-raja keturunan Śailendra yang berkuasa di Mdaŋ.
Nama “Dapunta Selendra” jelas merupakan ejaan Indonesia dari kata Sanskrit “Śailendra” karena di dalam prasasti digunakan bahasa Melayu Kuno. Jika demikian, kalau keluarga Śailendra berasal dari India Selatan tentunya mereka memakai bahasa Sanskrit di dalam prasasti-prasastinya. Dengan ditemukannya Prasasti Sojomerto telah diketahui asal keluarga Śailendra dengan pendirinya Dapunta Selendra. Berdasarkan paleografinya, Prasasti Sojomerto berasal dari sekitar pertengahan abad ke-7 Masehi.
Prasasti Canggal
menyebutkan bahwa Sañjaya mendirikan sebuah lingga di bukit Sthīrańga untuk tujuan dan keselamatan rakyatnya. Disebutkan pula bahwa Sañjaya memerintah Jawa menggantikan Sanna; Raja Sanna mempunyai saudara perempuan bernama Sanaha yang kemudian dikawininya dan melahirkan Sañjaya.
Dari Prasasti Sojomerto dan Prasasti Canggal telah diketahui nama tiga orang penguasa di Mdaŋ (Matarām), yaitu Dapunta Selendra, Sanna, dan Sañjaya. Raja Sañjaya mulai berkuasa di Mdaŋ pada tahun 717 Masehi. Dari Carita Parahiyangan dapat diketahui bahwa Sena (Raja Sanna) berkuasa selama 7 tahun. Kalau Sañjaya naik takhta pada tahun 717 Masehi, maka Sanna naik takhta sekitar tahun 710 Masehi. Hal ini bererti untuk sampai kepada Dapunta Selendra (pertengahan abad ke-7 Masehi) masih ada sisa sekitar 60 tahun. Kalau seorang penguasa memerintah lamanya kira-kira 25 tahun, maka setidak-tidaknya masih ada 2 penguasa lagi untuk sampai kepada Dapunta Selendra. Dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahawa Raja Mandimiñak mendapat putra Sang Sena (Sanna). Ia memegang pemerintahan selama 7 tahun, dan Mandimiñak diganti oleh Sang Sena yang memerintah 7 tahun. Dari urutan raja-raja yang memerintah itu, dapat diduga bahwa Mandimiñak mulai berkuasa sejak tahun 703 Masehi. Ini berarti masih ada 1 orang lagi yang berkuasa sebelum Mandimiñak.
Berita Tionghoa yang berasal dari masa Dinasti T'ang memberitakan tentang Kerajaan Ho-ling yang disebut She-po (=Jawa). Pada tahun 674 Masehi rakyat kerajaan itu menobatkan seorang wanita sebagai ratu, yaitu Hsi-mo (Ratu Sima). Ratu ini memerintah dengan baik. Mungkinkah ratu ini merupakan pewaris takhta dari Dapunta Selendra? Apabila ya, maka diperoleh urutan raja-raja yang memerintah di Mdaŋ, yaitu Dapunta Selendra (?- 674 Masehi), Ratu Sima (674-703 Masehi), Mandimiñak (703-710 Masehi), R. Sanna (710-717 Masehi), R. Sañjaya (717-746 Masehi), dan Rakai Paņamkaran (746-784 Masehi), dan seterusnya.

Era Mataram Kuna

Prajñāpāramitā sebagai personifikasi Dewi Tara.
my Family in the Vhalembank City - SRIWIJAYA - (sriwidjadja@yahoo.com)
Prajñāpāramitā sebagai personifikasi Dewi Tara.
Kerajaan Mataram Kuna diperintah oleh dua wangsa yaitu Wangsa Syailendra yang beragama Buddha dan Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu Syiwa. Pada awal era Mataram Kuna, Wangsa Syailendra cukup dominan di Jawa Tengah. Menurut para ahli sejarah, Wangsa Sanjaya awalnya berada di bawah pengaruh kekuasaan Wangsa Syailendra. Mengenai persaingan kekuasaan tersebut tidak diketahui secara pasti, akan tetapi kedua-duanya sama-sama berkuasa di Jawa Tengah.

Raja-raja yang berkuasa dari keluarga Syailendra tertera dalam prasasti Ligor, prasasti Nalanda maupun prasasti Klurak, sedangkan raja-raja dari keluarga Sanjaya tertera dalam prasasti Canggal dan prasasti Mantyasih. Berdasarkan candi-candi, peninggalan kerajaan Mataram Kuna dari abad ke-8 dan ke-9 yang bercorak Buddha (Syailendra) umumnya terletak di Jawa Tengah bagian selatan, sedangkan yang bercorak Hindu (Sanjaya) umumnya terletak di Jawa Tengah bagian utara.
Wangsa Syailendra pada saat berkuasa, juga mengadakan hubungan yang erat dengan kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Pada masa pemerintahan raja Indra (782-812), puteranya, Samaratungga, dinikahkan dengan Dewi Tara, puteri raja Sriwijaya. Prasasti yang ditemukan tidak jauh dari Candi Kalasan memberikan penjelasan bahwa candi tersebut dibangun untuk menghormati Tara sebagai Bodhisattva wanita. Pada tahun 790, Syailendra menyerang dan mengalahkan Chenla (Kamboja), kemudian sempat berkuasa di sana selama beberapa tahun.
Candi Borobudur
selesai dibangun pada masa pemerintahan raja Smaratungga (812-833). Borobudur merupakan monumen Buddha terbesar di dunia, dan kini menjadi salah satu kebanggaan bangsa Indonesia. Smaratungga memiliki puteri bernama Pramodhawardhani dan dari hasil pernikahannya dengan Dewi Tara, putera bernama Balaputradewa.

Daftar raja-raja

Pendapat umum menyebutkan raja-raja Wangsa Sailendra adalah sebagai berikut,

  • Bhanu (752-775), raja pertama dan pendiri Wangsa Syailendra
  • Wisnu (775-782), Candi Borobudur mulai dibangun
  • Indra (782-812), menyerang dan mengalahkan Kerajaan Chenla (Kamboja), serta mendudukinya selama 12 tahun
  • Samaratungga (812-833), Candi Borobudur selesai dibangun
  • Pramodhawardhani (833-856), menikah dengan Rakai Pikatan, pangeran Wangsa Sanjaya
  • Balaputradewa (833-850), melarikan diri ke Sriwijaya setelah dikalahkan Rakai Pikatan
Akan tetapi, beberapa sejarawan tampaknya menolak urutan ini. Misalnya, Slamet Muljana berpendapat bahwa anggota Wangsa Sailendra pertama yang berhasil menjadi raja adalah Rakai Panangkaran. Sementara itu, Porbatjaraka berpendapat bahwa wangsa Sanjaya itu tidak pernah ada. Dengan kata lain, Sanjaya juga merupakan anggota Wangsa Sailendra.


Runtuhnya Wangsa Syailendra

Pramodhawardhani, puteri raja Samaratungga menikah dengan Rakai Pikatan, yang waktu itu menjadi pangeran Wangsa Sanjaya. Sejak itu pengaruh Sanjaya yang bercorak Hindu mulai dominan di Mataram, menggantikan agama Buddha. Rakai Pikatan bahkan menyerang Balaputradewa, yang merupakan saudara Pramodhawardhani. Sejarah Wangsa Syailendra berakhir pada tahun 850, yaitu ketika Balaputradewa melarikan diri ke Sriwijaya yang merupakan negeri asal ibunya.
KEAJAIBAN DUNIA di ISRAEL (Dome of the Rock)
Keajaiban Dunia di Israelberikut ini adalah narasi aslinya :
Ini foto dari teman saya sewaktu melawat Al Aqsa (yg sebenarnya) di
Jerusalem, Subhanallah ……
Foto ini bisa lolos karena tidak diketahui oleh pihak israel yg menjaga
tempatnya dengan sangat ketat.

Bukti kebesaran Allah SWT batu tempat duduk Nabi Muhammad SAW Isra Mi’raj
sampai kini masih tetap melayang di udara. Pada saat Nabi Muhammad mau
Mi’raj batu tsb ikut, tetapi Nabi SAW menghentakan kakinya pada batu tsb,
maksudnya agar batu tsb tak usah ikut.
Kisah Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tentang batu gantung tsb yang berada
dalam masjid Umar (Dome of the Rock) di Lingkungan Masjidil AQSHA
di Yerusalem.
Sampai sekarang mesjid dome of rock ditutup untuk umum, dan Yahudi membuat
mesjid lain Al Sakhra tak jauh disebelahnya dengan kubah “emas” (yg sering
terlihat di poster2 yg disebarkan ke seluruh dunia dimana2) dan disebut
sebagai Al Aqsa, untuk mengelabui ummat islam dimana mesjid Al Aqsa yang
sebenarnya, yang Nabi Muhammad SAW pernah sebutkan Al Aqsa sebagai “mesjid
kubah biru”.
Saat ini mesjid Al Aqsa yg sebenarnya sudah di ambil-alih oleh israel , dan
rencananya mau dihancurkan untuk diganti sebagai tempat ibadah mereka
karena bersebelahan dengan tembok ratapan.

Robi blog Copyed" thanks



sriwidjadja
sriwidjadja
Latest page update: made by sriwidjadja , Nov 29 2008, 10:25 PM EST (about this update About This Update sriwidjadja Edited by sriwidjadja

205 words added
5 images added
4 images deleted

view changes

- complete history)
Keyword tags: None
More Info: links to this page
There are no threads for this page.  Be the first to start a new thread.